Jawaban Jitu : Kapan Nambah Anak Ketiga?

Saya beneran ga bosen deh ditanya kapan nambah anak ketiga? Atau anaknya 2 laki-laki, kapan nambah anak perempuan? 😄😄

Karena saya punya kumpulan jawabannya 😁😁

Berikut beberapa pilihannya 😜 

1. Mudah-mudahan saya cukup dengan 2 anak, sekolah mahal, daycare mahal, mbak susah dicari (*bayar mbak sih gampang, nyarinya itu loh –> edisi songong 😥😥)

2. Anak laki2 saya, keduanya kalau mau tidur sukanya dipeluk saya, 2 tangan saya sudah digunakan untuk memeluk keduanya, kalau ada anak ketiga, kasian kan ga ada tangan Mamah yang memeluk…(*edisi kasih sayang 😍😍)

3. Saya kerja, anak 1 dititip di Omanya, anak 2 dititip di daycare, kalau ada anak ketiga, dititip dimana lagi? (*edisi distribusi…distribusi anak 😶)

4. Mimpi saya, suatu hari nanti bisa keliling dunia sekeluarga (*maksudnya sama suami dan anak-anak loh ya). Kalau belum tahu, untuk bisa traveling ke Eropa sekarang-sekarang ini, minimal ada deposit sekitar 50 juta rupiah per orang (*inget! Per Orang), sekarang aja berempat sudah minimal depositnya 200 juta rupiah, nah dihitung-hitung dengan inflasi dan future value of money (*sok iya aja jago ngitung) beberapa tahun lagi pasti akan lebih mahal, nah, kalau ada anak ketiga? Kapan travelingnyaaa…(*edisi kurang piknik 😓)

5. Saya ini warga negara yang baik. Warga suatu negara lho ya (*no SARA please). Sebagaimana warga negara yang baik, saya mendukung program pemerintah “2 anak cukup”. Udah pada paham lah ya…(*edisi taat pemerintah:):))

6. Buat saya, kualitas anak lebih utama daripada kuantitas anak. Dengan 2 anak, saya jauh lebih fokus mendidik dan membesarkan mereka, no offense please. Kalau mau nyinyir, saya akan jawab, “kemampuan saya cemen kok, baru mampu sampai 2 anak, terus situ mau bilang apa?” (*ngajak gelut mode ON :evil:)

7. Laki-laki atau perempuan sama saja! Semua sama di mata Tuhan, lalu kenapa manusia yang tidak sempurna ini membeda-bedakan? (*edisi religius 😇)

Salam Hangat,

Ibu 2 Anak 😘

What had 2016 taught me?

Hai 😄 

Lama ga nulis deh saya (*sambil nyapu2 dan ngelap2 blog 😆), lama banget! Sejak si hp note ini rusak, trus ganti ke J, trus note diperbaiki dan sudah bisa dipakai lagi dengan kadang-kadang masih error tapi masih bisalaaahh πŸ™‚

Kangen nuliiiis, kangen menangkap langkah kehidupan dalam tulisan πŸ™‚

Semangatnya datang dari temen-temen #ODOP, yang membuat saya merasa terapresiasi, karena, “wah, saya ada di dalam group blogger yang handal” (*nebeng biar dibilang handal 😅) gimana taunya handal? Well, di beberapa ajang lomba nulis blog aka blogger competition, beberapa adalah juara-juaranya. Beberapa sudah menghasilkan uang dari tulisannya. Dan sederet kisah sukses lainnya. Terpecut? Iya dong, masternya ada semua, murah berbagi, masak iya mau silent reader terus 😌 (*sambil nunduk malu, ambil parfum, semprot blognya, biar wangi 😆)

Desember memang belum habis, tapi…saya sudah ingin merekapitulasi pelajaran hidup selama setahun ini. Rasanya 2016 ini adalah tahun yang penuh pelajaran untuk saya πŸ™‚

Di pertengahan Januari, suatu Senin pagi, saya dikejutkan dengan pesan dari whatsapp “Perusahaan ini mau tutup. Semua pekerja diberhentikan.” Awal tahun yang cukup mengejutkan bagi kami, terutama suami saya. Syukurlah, Tuhan sangat menyayangi kami. Ujian ini sanggup kami lalui, tidak lama suami saya sudah berkarir di tempat yang baru, dengan tantangan baru, malah lebih baik dari sebelumnya. Itu saja hikmahnya? Belum semua…Di masa sulit itu, kami belajar menguatkan hubungan. Tuhan memberi kami waktu untuk ngobrol dari hati ke hati, sehingga kualitas hubungan membaik. Kami lebih baik.

Instead of investing or saving dari pesangon, kami memilih menyelesaikan kewajiban cicilan kami. Awalnya sederhana saja, kalau kami cicil per bulan akan memberatkan biaya operasional bulanan ketika suami saya belum kembali bekerja, sehingga kami memutuskan menutup cicilan. Perasaan kami? Lega. Lepas dari hutang cicilan itu sangat melegakan ☺

Masih di triwulan pertama tahun 2016, saat penilaian kinerja personal. Atasan saya mengatakan bahwa salah seorang peer saya menyampaikan bahwa dia tidak menyelesaikan pekerjaannya karena saya, karena saya menanyainya tentang pekerjaan. Alih-alih menerima penjelasan saya, atasan saya menganggap saya kurang dalam berkomunikasi dan saya meremehkan orang lain. Somebody was playing victim at that time. 

Pekerjaan yang dilakukan peer saya ini, sebutlah si MR, mempengaruhi kelanjutan pekerjaan beberapa unit, sehingga saya bertanya pada MR, “apakah sudah selesai?kira-kira kapan selesai?” Dan karena pertanyaan itu saya dianggap membuat pekerjaannya tidak selesai πŸ™‚ 

Atasan saya menyarankan agar ke depannya saya bertanya melalui atasan saya saja mengenai pekerjaan MR. Saya menyepakatinya. Hampir setahun sejak MR ‘mengadukan’ saya, apakah tugas-tugasnya selesai? As predicted, jawabannya : TIDAK. Not even reach 75% :D:D Mengabaikan tugasnya, lantas mengakui pekerjaan saya sebagai miliknya, dilakukan juga πŸ™‚ I’ve been working for years with many teams from some units and never had a problem, but time will prove anything…meskipun sampai sekarang MR ini tetap ada, saya yakin, Tuhan melihat segalanya. Saya anggap MR ini adalah satu materi ‘ujian kenaikan tingkat hidup’. Politik kantor ya namanya, macam-macam bentuknya 😁😁😁 

Lalu di tahun ini datanglah ‘perang batin’ ibu bekerja. Yes, saya ingin berhenti dan mengurus rumah tangga. Saya ingin menyudahi segala bumbu politik kantor, ditambah biaya daycare yang tidak lagi bersubsidi, mahal sodara-sodari…(*mencapai 3 kali lipatnya). Saya juga sangat ingin menerapkan pola pengasuhan untuk anak-anak saya sesuai dengan kemampuan terbaik saya, menemani belajar dan bermain, serta melihat perkembangan mereka setiap saat. Suami saya mengajukan pertanyaan sebelum saya memutuskan resign “Apakah kamu yakin berhenti bekerja? Apa jangan-jangan dalam 3 bulan kamu jadi jenuh dan uring-uringan?” Pertanyaan suami saya ini belum bisa saya jawab sampai saat ini. Dan beberapa pertimbangan lain yang membuat saya akhirnya masih memilih jalur ibu bekerja.

Di tahun ini juga saya belajar banyak hal tentang bagaimana seseorang menyampaikan pikiran dan pandangan. Saya ingat ada sebuah pernyataan “Menitipkan uang, akan berkurang, menitipkan pembicaraan, akan berlebih”:) Pukulan telak saya dapatkan dari orang-orang dekat. Saat saya sudah menjelaskan keadaan sebenar-benarnya, dan orang lain tidak menerima, bahkan percaya pada pembicaraan yang sudah dibumbui, saat itulah saya kembali berterima kasih bahwa Tuhan sedang menegur saya, mengingatkan akan karma kehidupan saya terdahulu, untuk nantinya hidup lebih baik, terutama untuk kedua anak kesayangan saya. πŸ™‚

Yoga! Tahun ini senaaang sekali rasanya saya berkenalan dengan yoga πŸ™‚ Dengan berlatih yoga secara rutin, saya merasa mendapatkan semangat baru, melakukan hal-hal yang selama ini saya tidak yakin bisa melakukannya, tapi ternyata saya…bisa!! Pose tripod apalagi headstand yang sejak kecil mungkin hanya bisa saya lakukan dalam mimpi, sekarang bisa saya lakukan dengan penuh kesadaran. Yoga pun menjadi terapi untuk diri saya, melatih kesabaran dan kesadaran untuk diri saya. Dalam beryoga, saya tidak sedang berkompetisi dengan dunia, saya hanya sedang menaklukkan semua kekhawatiran dan ketakutan saya, sehingga setelah melakukan yoga saya merasa bugar dan bahagia πŸ™‚

Beberapa waktu ini saya mungkin sedang tidak dalam kondisi terbaik, tapi lagi-lagi grup ODOP ini datang membawa semangat baru. Melalui grup whatsapp awal Desember 2016 lalu, saya berkesempatan kulwap dengan penulis kenamaan Indonesia, She is Dee! The famous Dewi Lestari which is known by her ‘Supernova’ book 😍😍😍 Meskipun menjadi penulis terkenal bukan jadi tujuan utama saya, tetapi kulwap ini membangkitkan semangat saya untuk terus menulis. Kalau Dory dalam film Finding Dory diingatkan orang tuanya untuk “Keep Swimming..Keep Swimming..” saya bagai disemangati “Keep writing…Keep writing..” πŸ˜‰ Satu lagi, saya tersanjung Bapak PM Susbandono mau membaca dan memberi saran untuk tulisan saya. Saya mencatat saran beliau, menulis dengan tujuan dan sensitif dengan sekitar :):) Matur nuwun sanget, Bapak!

Dan yang paling gres adalah….Sertifikat ODOPfor99days!!! Rasanya bahagiaaaa banget menerima sertifikat ini 😄😄 Sertifikat ini mengingatkan saya bagaimana perjuangan saya mencoba lulus dari #ODOPfor99days, saya tidak menyangka, saya bisa melaluinya!! Big applause and hat off to all of my #ODOPfor99days fellas 😙😙 especially Teh Shanty Dewi Arifin, the initiator.

Saya percaya di balik setiap ujian akan ada hikmahnya. Semua ujian ini menaikkan kelas keimanan dan kepercayaan saya kepada Tuhan. Tuhan tidak akan menguji umatNya melebihi batas kemampuan umatNya. Dan saya yakin, karena semua indah pada waktuNya, akan ada hari dimana saya akan tersenyum menuai buah-buah tanaman saya, untuk saya berikan hanya kepada kedua anak kesayangan saya.

#day114

About being Trusted..

Buat saya adalah keharusan..

Coba kalo saya suka menceritakan rahasia orang lain…atau saya menceritakan rahasia perusahaan…kalau saya big mouth, apakah nanti mereka akan percaya lagi pada saya?

Saya memilih berkata tidak, kalau saya tidak mampu. Saya memilih untuk tidak mendengar cerita berkategori rahasia, kalau saya tidak yakin apakah saya bisa menyimpannya atau tidak. 

Saya memasukkan cerita ‘rahasia’ orang lain ke dalam ‘you can trust me category’ untuk hal-hal yang dipercayakan pada saya. Malulah saya kalau saya bocor, lalu yang menceritakan kepada saya, mendapatkan cerita tersebut dari orang lain dan ketika dicek, sumbernya adalah saya πŸ€’πŸ€’

Kadang ketika saya diberi kepercayaan untuk menangani project yang berkategori ‘confidential’ not even a clue, saya harus menyimpannya sendiri dari teman dalam tim saya, kadang sulit karena sebagai 1 tim kadang kita bertanya tentang apa yang dikerjakan oleh teman kita, tapi sekali lagi, kalau saya bocor, saya merusak kepercayaan yang diberikan kepada saya. 

Orang mungkin menilai saya pelit informasi, tapi buat saya, jauh lebih penting menjadi dipercaya.

Mengutip dari twit Mba Alissa Wahid, tim dengan trust yang tinggi akan lebih produktif, sementara tim dengan distrust akan menghabiskan energi dan melelahkan tanpa menghasilkan sesuatu yang sangat berarti, maka being trusted adalah pilihan saya.

Kenapa sih saya sering banget menulis topik-topik ini? 

Saya mengamati dan menganalisa, apa yang baik dan apa yang tidak. Yang tidak, akan saya analisa kemudian saya cari solusinya untuk saya, lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan 😊 harapannya, kalau saya lupa, saya ingat kembali dari apa yang saya tulis.

#day113

HUET – Melahirkan – Yoga

Apa hubungannya? 

Saya baru pulang helicopter underwater escape training (HUET), apa itu? Kursus teknik penyelamatan diri dari helicopter yang tenggelam πŸ˜… sounds cool? Coba dipertimbangkan dulu 😁

Berhubung pekerjaan mengharuskan saya punya sertifikat training ini, ya ikutlaaaahh…Awal-awal denger trainingnya, “waaah, nanti bakal dimasukin ke dalam helikopter, dalem air, trus helikopternya dibalik!” Itu satu, yang lain bilang “Rasanya itu air masuk ke hidung, panaaas!” Ok, jiper pastinya πŸ˜† 

Kenyataannya? Bener siiihh πŸ˜‚ masih mau bilang cool?

Tapi, segala hal yang pertama kali rasanya hampir selalu seru dan menarik kan? Itu yang saya rasakan. Jadi, terima teorinya di kelas, masih sangat amazed (*namanya belum pernah naik helicopter ya πŸ˜…) pas praktik? Saya sempatkan merenung sebentar cari motivasi, “Do I have to do these all?” (*meuni kabinabina teuing πŸ˜‚πŸ˜‚). Selama simulasinya masih kepala di atas air, rasanya buat sebagian besar orang termasuk saya, pasti lebih mudah kan ya. Yang menurut saya challenging adalah ketika kita ada di dalam replika helikopter itu kemudian helikopter ditenggelamkan lalu harus menyelamatkan diri dari pintu maupun jendela helikopter yang tertutup, dengan kondisi tenggelam 2 mode, tenggelam lurus dan helikopter tenggelam dalam kondisi terbalik. Iya terbalik 180Β°. 

Semuanya berhasil saya lalui dengan baik 😊😊 dan saya memilih untuk berada dalam tim pertama yang mencoba simulasi. Prinsip saya, mau jadi  tim yang pertama atau terakhir, saya pasti harus mencoba kan, jadi ya sudahlah, saya ambil saja yang pertama hehe πŸ˜ƒ

Setelah itu saya duduk, sambil melihat ke tim berikutnya. All we really need is stay calm and do not panic. Cukup ikuti saja urutan yang diajarkan oleh instruktur, everything is gonna be okay. Kalau panik? Rugi di kita kok, semakin lama menahan napas, belum hidung sakit kemasukan air, bisa lupa urut-urutan penyelamatan diri, dan di dalam air saja sudah mampu membuat kita disorientasi, jadi tidak perlu ditambah dengan perasaan panik, cuma bikin lupa. Oya, namanya juga training, meskipun dikondisikan seperti kejadian sebenarnya, tetap banyak penyelam dan instruktur ahli di sekeliling kita, jadi tetap tenang saja. Rasanya tidak nyakan memang kalau tenggelam, tapi kalau kita tidak pernah mencoba, (amit-amit) dalam kondisi sebenarnya kita jadi tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

Saya jadi teringat momen-momen “jangan panik” ini dibutuhkan. Yang pernah hamil dan melahirkan pasti tau ya rasanya. Saya bersyukur sekali ikut kelas hypnobirthing dan senam hamil yang mengajari saya untuk tetap tenang dan tidak panik ketika kontraksi datang dan waktunya melahirkan, bahkan di anak kedua, sampai bukaan 9 saja saya tetap bisa bercanda, ngobrol, jalan dengan suami, dokter, maupun bidan ketika kontraksi berkurang. Sakit? Ya sakit sih memang, tapi ya dinikmati. Kalau saya panik, energi saya untuk melahirkan pasti akan habis untuk panik juga kan ya..

Saya pun ingat pesan yoga trainer saya untuk tidak ‘keburu nafsu’ mencoba gerakan baru. Saat melihat orang lain achieved pose baru dan saya belum bisa, saya panik, ingin buru-buru bisa, padahal dalam yoga, pencapaian orang sangat tergantung kemampuan masing-masing tubuhnya, jadi ya tidak akan sama, belum tentu sama untuk 2 orang dengan waktu latihan yang sama.

Dan manfaat belajar tenang saat persiapan melahirkan dan yoga itu akhirnya membawa saya tidak panik saat HUET. Hasilnya seperti harapan saya, baik-baik saja 😊 hidung perih? Ya pasti, karena tenggelam, tapi saya tidak menambah penyakit dengan menendang orang, atau tabrak sana sini karena panik πŸ˜†

#day112

I’m fully recharged

Banyak hal, yang dapat dijadikan momentum bagi tiap orang untuk melanjutkan hidupnya

Setelah berminggu-minggu juggling dengan pekerjaan kantor, makan hati karena politik kotor kantor, disebelin orang karena saya tetap baik pada orang yang tidak disukai orang ini, sampai satu momen hadir membangunkan saya (lagi), hidup saya untuk siapa?

Seorang teman kantor, yang selaluuu ceria, yang selaluuu ramah, tiba-tiba saja pusing dan muntah di malam minggu pukul 2 pagi setelah begadang mengerjakan pekerjaan kantor. Dibawa ke rumah sakit dengan ambulance, di perjalanan mulai tidak sadar, kemudian koma, sampai di hari ke-8 akhirnya meninggal. Tidak ada kelainan jantung, tapi ada perdarahan yang cukup luas di otak sampai ke batang otak. Usianya baru 42 tahun, meninggalkan seorang istri, dan 2 orang anak. Anak bungsunya berumur 8 tahun. Seumur saya ketika ayah saya meninggal, dan teman saya ini meninggal di umur yang sama dengan ayah saya saat meninggal. This moment brings all my memories about my father out.

Buat saya, hal terberat tentang kematian adalah, kita tidak akan pernah lagi bertemu dengan yang sudah meninggal secara fisik, karena, setiap kali saya merindukan untuk bisa dipeluk ayah saya, saya sadar, itu tidak akan pernah terjadi lagi. 

Okey..bangun..saya mencoba mengambil hikmah dari setiap kejadian ini. Ayah saya meninggal di rumah jam 3 pagi setelah nonton sepak bola di TV karena jantung koroner. 

Teman saya, alm. Mas Sonny meninggal setelah koma berhari-hari, setelah sebelumnya sedang mengerjakan pekerjaan di rumahnya dan beberapa jam sebelumnya update status di path.

Kita ga pernah tau kapan kematian kita datang. Apakah kita sedang senang-senang, atau mungkin sedang berantem sama suami, atau mungkin sedang bercanda sama anak. Kita tidak pernah tahu rahasiaNya. Saya tidak bisa merencanakan kapan saya meninggal dan dalam keadaan seperti apa. Jadi, sayalah yang harus selalu siap, live at the fullest. Dan kembali ke tujuan hidup saya, saya akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak saya πŸ™‚

Nice quote dari Mother Teresa ini selalu jadi penyemangat saya, lupa ambil dari mana, mudah-mudahan bisa menyemangati kita semua untuk hidup lebih baik.

Karena pada akhirnya, ini adalah urusan saya dengan Tuhan, bukan urusan antara saya dengan mereka.
#day111

Our Healthy Habit

Sejak kejadian bacaan EKG yang meleset di medical check up suami tahun lalu, suami saya makin semangat menerapkan kebiasaan sehat di rumah maupun di kantor. Meskipun sebenarnya setelah dicek ulang di laboratorium yang terpercaya dan 2nd opinion hasil rekam jantungnya sebenarnya normal, tetap saja, momen salah rekaman itu bikin kami serasa diingatkan, memulai hidup sehat itu jangan nunggu waktu sakit.

Dengan jam kerja yang pergi pagi pulang malem sekarang ini, sulit deh mencari waktu yang pas untuk olahraga di hari kerja. Sebenarnya di weekdays kami juga melakukan olahraga tapi rasanya kurang ya kalau hanya 1 x seminggu, saya menyempatkan diri yoga 1 x seminggu, suami memilih aikido 1 x seminggu. Jadi solusinya ya, kami berolahraga di hari Sabtu-Minggu. 

Entah bisa dibilang olahraga atau tidak ya 😆 aktivitas saat weekend ini bisa dibilang ringan dan fun. Suami dan anak-anak naik sepeda keliling kompleks, saya kadang ikut jalan, kadang di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga ganti-ganti sprei di kamar 😅. Suami saya yang baik selalu menarik saya untuk ikut bersepeda. Tujuannya supaya badan kami tetap bergerak dan mendapat sinar matahari. Hasil ngobrol sama dokternya anak-anak, penting banget lho anak-anak maupun orang dewasa mendapatkan sinar matahari yang kaya vitamin D. Buat pekerja kantoran yang lebih sering di gedung, weekend adalah waktu yang pas untuk ‘berjemur’.

Selain olahraga, suami saya juga sangat perhatian dengan apa yang kami makan. Dia yang mulai rajin makan oatmeal dan muesli untuk sarapan sementara istrinya masih setia sama nasi uduk atau bubur ayam atau lontong sayur atau indomie pakai telor 1 porsi 🙈

Setiap Jumat, suami saya ini suka minta saya belanja bahan-bahan salad. Iya, sabtu minggu kami suka makan malam salad sebagai program clean eating 😅 Suami saya pun turun tangan langsung menyiapkan salad plus dressingnya. Dressingnya pun yang low calories 😅 jadi jangan bayangkan salad enak dengan luberan dressing mayones ya 😆 

Healthy salad bikinan suami saya ini dressingnya nyontek dari resepnya Jamie Oliver. Jadi bahannya extra virgin olive oil, perasan lemon, groundpepper bubuk, dan sedikit garam. Isian saladnya hampir selalu lettuce head, tomat cherry, jagung manis kukus, dan bawang bombay iris. Toppingnya paling sering sedikit kripik kentang (*biar nambah selera aja sih sebenernya 😂) atau kalau kebetulan punya oseng tuna asap ‘otaji’ yang enak itu, bisa jadi toppingnya. Enak dan sehat. Tapi kalau bosan, saya request ke suami untuk libur clean eating 😜

Sejak agenda pumping asi perah untuk Adek selesai di usianya 20 bulan, saya merasa berat badan hamil yang tadinya sudah turun habis di usia Adek 6 bulan ini naik lagi 😅 Indikatornya baju dan celana yang mulai sempit. Karena berat badan saya sudah turun, jadi semua baju dan celana sudah saya permak kecilkan ke ukuran berat badan yang kecil, eh ternyata naik lagi 😅 ga tanggung-tanggung, naiknya hampir 3 kg saja 🙈

Tentunya saya berniat kembali ke berat badan semula. Dan suami saya juga mendukung, demi muatnya baju dan celana yang ada 😂. Jadi agenda clean eating saat weekend makin digiatkan. Pola makan pun saya perbaiki. Porsi ibu menyusui yang masih pumping dengan yang tidak pumping pastinya sudah tidak sama, tapi pola makan saya masih sama seperti masih menyusui (*no wonder lah ya berat badannya naik lagi 😅), tapi upaya saya membuahkan hasil, dalam 2 minggu ini saya turun berat badan hampir 2 kg dengan menjaga pola makan. 

Sarapan yang tadinya banyaaak, saya kurangi. Yang tadinya roti isi bisa habis 4 lembar roti tawar, saya kurangi jadi 2 lembar saja. Saya dan suami pun mulai sarapan oat atau muesli lagi, hanya saja sekarang saya membuat overnight oat. Rasanya jauh lebih enak daripada hanya menyeduh oat saja 😅. Untuk menambah rasa, saya gunakan madu atau buah-buahan instead of gula. 

1 hal lagi yang saya ubah adalah kebiasaan ngemil. Kalau kemarin-kemarin di sela waktu makan pagi ke siang atau siang ke malam saya suka sekali ngemil berbagai makanan, ya krupuk, ya coklat (*roti pun jadi cemilan 😅), sekarang saya membatasi hanya ngemil buah-buahan. 

Makan berat saya juga mengurangi porsinya. Saya mengatur porsi makan siang lebih banyak dari malam, karena malam aktivitas fisik sudah berkurang, paling tinggal menyusui Adek kemudian tidur.

Seminggu pertama rasanya ga enak banget. Dari yang biasa makan banyak, ngemil sesukanya lalu harus dikurangi. Untuk mengurangi keinginan mengunyah saya banyak minum air putih, akhirnya ya berhasil 😄😄😄 mudah-mudahan 2 minggu ke depan sudah kembali ke berat semula.

Namanya punya suami sayang istri ya 😍 semangatnya si istri kembali ke berat badan semula didukung penuh sama suami. Tapi ada hari si suami merasa ingin menyenangkan istrinya, sehingga di tengah usaha diet istrinya, suatu hari si suami pulang kantor bawa nasi padang bungkus buat istrinya, dan dengan mudahnya si istri menghabiskan buah tangan suaminya dan lupa sama dietnya 🙊🙊🙊

Untung cuma sesekali ya, jadi ga ngaruh kok 😆

#day110

5 Hal Yang Membuat Belanja di IKEA Begitu Menyenangkan

IKEA Indonesia…siapa yang belum pernah kesana? Sebelum ada IKEA Indonesia dulu, saya mesti puas hanya bisa melihat-lihat katalog online si toko perlengkapan rumah yang desainnya keren ini, karena IKEA terdekat yang paling sering dikunjungi oleh warga Indonesia setahu saya adalah IKEA Singapore. Sekarang, IKEA is just 1 hour driving from my home (*oya not to mention the traffic ya πŸ˜†) sehingga saya bisa dengan mudahnya ke IKEA.

Cuci mata di IKEA ini sungguh menyenangkan deh πŸ˜„, melihat barang-barang dan perabotan rumah tangga yang unik sampai perlengkapan dan mainan anak yang lucu dan relatif terjangkau, rasanya ingin memindahkan semua isinya ke rumah πŸ˜…

Kenapa kami menikmati setiap kunjungan ke IKEA?

Pertama, setiap perlengkapan rumah ditempatkan sesuai dengan temanya dan ada beberapa contoh desain interior ‘rumah’ atau ‘apartemen’ modern yang terlihat lapang meskipun ukuran ruangnya kecil. Menurut saya, ide menempatkan sesuai tema ini sangat kreatif!

Kedua, penataan showroom IKEA IndonesiaΒ ini juga oke. Pengunjung akan melalui jalan utama dan barang-barang yang dijual akan berada di sisi kiri dan kanan jalan tersebut. IKEA menggunakan sistem ‘self-service’ yang menurut saya sangat terorganisir dengan baik dan informatif. Saya tidak sulit menemukan barang yang saya cari, karena kode dan penomoran serta letak barang tertulis dan tanda serta informasinya jelas. Buru-buru ingin segera ke area tertentu? Tenang saja, banyak ‘jalan pintas’ kok yang berisi penunjuk arah ke area tertentu, jadi kita tidak perlu melalui area yang tidak kita butuhkan. Enak sekali kan? πŸ˜„ Untuk saya yang selalu membawa anak-anak kemanapun tanpa pengasuh, di IKEA ini ada playground untuk anak-anak sehingga kita bisa belanja, anak-anak bisa main. Kalau anak-anak tetap ingin ikut kita jalan-jalan, di beberapa area, ada semacam ‘children stop’ untuk anak-anak main alat kemudi atau memutar balok, jadi anak-anak bisa mampir disana sembari orang tuanya belanja.

Rata-rata desainnya modern minimalis. Beberapa perlengkapan dapur, rak buku, dan ruang makan saya beli di IKEA. Menurut saya, desainnya tidak membosankan πŸ˜„ Mainan anak-anaknya juga banyaaak πŸ˜„banyak boneka dengan karakter yang jarang ditemukan, seperti serigala, unicorn, dan dragon. Educative wooden toys pun harganya cukup terjangkau. Alat makan plastik untuk anak-anak dari IKEA rasanya hampir selalu dimiliki keluarga yang punya anak-anak kecil ya πŸ˜„ selain bisa jadi isi goody bag, peralatan makan ini sangat berguna bila banyak tamu kecil di rumah, seperti saat program home visit dari sekolah, dimana kegiatan belajar mengajar dipindah ke rumah.

Nah, biasanya kalau bawa anak-anak, mereka jam-jam tertentu pasti ingin makan. Senang sekali, di IKEA ini tersedia tempat makan yang menjual makanan berat maupun snack. Bagi si Kakak, ke IKEA artinya bisa membeli ice cream yang cone-nya bisa diisi sendiri hanya dengan memasukkan koin dan memencet tombol πŸ˜†πŸ˜†

Hal terakhir yang tidak kalah menyenangkannya adalah soal parkir. Rasanya tidak bisa sebentar kalau kami sekeluarga ke IKEA πŸ˜„. Beberapa kali kunjungan, waktu tercepat kami adalah 4 jam! πŸ˜† Buat Ibu-Ibu seperti saya, ada gratisan tentunya happy dong ya. Di IKEA Indonesia, mau keliling lama-lama tidak perlu khawatir bayar parkir, karena parkir gratis πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kami bisa ke IKEA Indonesia lagi, ketemu disana yaaa 😊

#TUMIKEABlogCompetition