2018 – 365 – 3 Resolusi Tahun Baru

Resolusi tahun 2018 adalah melanjutkan resolusi tahun 2017 yang belum dilakukan, yang mana masih dari resolusi tahun 2016, yang disusun sebagai resolusi yahun 2015… 😝

Break dulu ya cerita road tripnya πŸ˜„

Saya lagi ingin menuliskan cita-cita saya di tahun ini. Jadi, triwulan akhir tahun 2017 lalu, saya sempat diberikan kesempatan untuk menjadi pejabat sementara mengisi posisi manager di departemen saya. Namanya sementara, sekarang juga sudah berakhir 😊 tapi berharga sekali rasanya bisa merasakan pengalaman tersebut. I learned a lot from the process! Lalu, what’s next?

Saya sudah melalui 10 tahun kerja dimana 9 tahunnya saya habiskan di posisi yang sama, supervisor yang sama, masalah yang seputar itu saja, dan kesempatan untuk berkembang yang semakin menipis kalau saya tetap berada disana. Saya ingin memberikan tantangan kepada diri saya sendiri dengan..melanjutkan kuliah.

Dari ngobrol santai dengan teman seprofesi, obrolan itu mampu membangunkan lagi semangat saya untuk sekolah πŸ˜„

Ya, tahun ini saya akan menyiapkan diri untuk sekolah lagi 😊 selagi umur saya masih cukup, selagi semangat masih membara. Rasanya, senang sekali bisa berjalan sambil mewujudkan mimpi, seperti membangunkan sel-sel yang selama ini tidur πŸ˜…

Apalagi yang lain?

Saya ingin setiap hari dapat meluangkan waktu menemani anak-anak belajar dan bermain. Tinggal di Jakarta ini ya, saya merasa kualitas hidup saya rendah sekali. Bangun pagi, macet berangkat ke kantor, kerja, macet pulang dari kantor, kecapean sampai di rumah, makan, mandi, lalu tidur, dan rutinitas esok hari berulang lagi. Setelah road trip kemarin, saya berpikir ulang, waktu saya selama ini habis di jalan, fisik capek dan tidak bisa main dengan anak-anak, mau sampai kapan ya saya seperti ini? 😒 Pilihan solusinya bisa berupa berhenti kerja…atau pindah kota…atau pindah kerja…tapi ini pilihan rencana jangka panjang. Hal tercepat yang harus segera bisa saya perbaiki adalah waktu dengan anak-anak. They grow up everyday…

Resolusi tahun ini juga, Dandan!! Hahaha…pengen bermuka rada segaaarr keluar rumah, saya kan ga bedakan apalagi lipstikan selama ini πŸ˜‚πŸ˜‚

Menulis hehehe…ini adalah salah satu resolusi saya, menulis tiap hari. Menulis apa sajaaa πŸ˜… saya kembali membaca tulisan saya di blog ini, dan terakhir kali saya menulis adalah tahun lalu πŸ˜… saya merasa, saya harus tetap menulis, merekam kenangan dalam kata di sela-sela waktu sehari-hari

Mungkin yang saya perlukan adalah lebih fokus pada tujuan saya, dan tujuan terbesar hidup saya adalah anak-anak dan Ibu saya 😊

Advertisements

2018-365-2 Trip Joglosemar

Nah saya lanjutkan saja ya

Sebenernya trip tanggal 21 Desember itu macet banget πŸ˜… Jakarta – Semarang 15 jam saja πŸ™ˆ tapi mungkin ketutup sama excitement roadtrip pertama kali, jadi seneng-seneng aja ngejalaninnya πŸ˜„πŸ˜„

Tanggal 22 Desember kami rencana ke Salatiga, sowan ke rumah kakak Ibu saya yang usianya sudah 82 tahun 😍 dan sepupu yang saya sendiri kalau ketemu di jalan pasti ga kenal mukanya πŸ˜… Paginya kami keliling Kota Tua Semarang, foto-foto di Taman sebelah Gereja Bleduk, mampir ke 3D Trick Art Museum (*akhirnya kesampean loh ke tempat kekinian ini πŸ˜…) lalu makan siang di Lunpia Gang Lombok, Semarang. Sampai sana sekitar pukul 13.00 dan syukur masih rejeki ya, karena setengah jam setelah kami sampai, mereka menutup pesanan karena habis πŸ˜… Perjalanan pun dilanjut ke Salatiga, kesorean memang 😁 rute pun sebenernya agak kacau karena kita mengulur waktu supaya bisa naik kereta api di Museum Kereta Api Ambarawa yang hanya beroperasi di hari Sabtu dan Minggu.

Puas temu kangen, malam itu dilanjutkan dengan makan Garang Asem Sari Rasa yang sudah diidam2 suami πŸ˜„ sekali lagi, syukur masih rejeki, meskipun sampai disana sudah jam 20.00, kami masih kebagian. Malamnya kami pun masih menginap di Semarang.

Namanya liburan ya, kami pun bangun pagi ya tidak pagi-pagi banget πŸ˜„ kami siap sekitar pukul 9-10 pagi. Sabtu, tanggal 23 Desember pagi kami menuju Museum KA Ambarawa, sampai disana hampir pukul 11.00 dan ternyata tiket KA nya…habis! 😭 Kata petugas tiket, loket buka pukul 08.00 dan tiket sudah habis pukul 09.00…hiks…sedih sekali, padahal sudah cerita ke anak2 bahwa kita akan naik kereta πŸ˜… akhirnya kami berpuas dengan berkeliling museum dan naik lokomotif dan gerbong yang tidak bergerak, yah namanya anak2 ya, segitu juga mereka tetap senang loh. Senang ya punya hati seperti anak-anak, hati yang selalu senang dan bersyukur 😍

Siangnya kami makan di rumah makan Kampung Rawa di Rawa Pening. Oiya, restorannya terapung πŸ˜„ dan yang seru, untuk menuju restonya, kita menggunakan rakit 😍 sekali lagi, anak2 girang sekali. Kami duduk lesehan dengan pemandangan bukit dan sawah plus angin sepoi-sepoi. Ngantuk! Hahahaha…

Karena masih ada agenda ke Borobudur, kami pun melanjutkan perjalanan, tapi mampir dulu di Serabi Ngampin Ambarawa. Ternyata Ngampin ini nama Desa di Ambarawa dan di sepanjang jalan, pinggir kanan dan kiri, berderet penjual serabi. Padahal masih kenyang ya, tapi demi wisata kuliner, kami makan serabi lagi πŸ˜‚

Dari Ambarawa, kami lanjut ke Borobudur. Akhirnya ya, saya sampai juga di Candi Borobudur, hati senang sekaliii, karena bisa ke Candi yang terdaftar di 7 wonders of the World ini. Sampai disana sekitar jam 4 sore sih dan beruntung matahari masih sangat terik, panas tapi kami bisa jalan-jalan. Setelahnya, kami berwisata menggunakan VW dengan atap terbuka berkeliling desa wisata 😍 seru sekali! Oiya, biaya sewanya per mobil Rp.150.000,- Rutenya adalah Desa wisata di sekitar Candi Borobudur.

Sorenya kami melanjutkan ke Yogyakarta untuk menginap disana, sambil mencari-cari dimana laundry kiloan express πŸ˜‚

Cerita bersambung yaaa

2018-365-1

Hatciiihhhh…hatciiihhh…😷

Iya saya meler berat πŸ˜… happy new year 2018 😍😍 sudah berapa lama saya puasa nge-blog? Haha..malu ya sama kalender πŸ˜‹

Oh 2018 be nice to my blog (*ya kalik deh kalo ga usaha)

Tiba-tiba kangen lagi nulis…berniat lagi nulis sehari 1 tulisan sehingga pakai judul dalam bentuk kode angka 😁 2018 artinya ya tahun 2018 lalu 365 artinya jumlah hari dalam setahun dan -1 yang nantinya akan berubah-ubah sesuai hari postingan πŸ˜„

2017 taught me a lot, I really mean it..it was hard to be passed but I am survived πŸ’ͺ🏻

Dan hadiah untuk diri sendiri adalah liburan akhir tahun 2017 ke Joglosemar yang pastinya tidak akan pernah terlupakan. Road trip kemarin ini terinspirasi dari keluarga Mba Nila 😍 awalnya ragu, apa iya akan roadtrip dengan 2 anak (7 dan 3 tahun) dan Ibu saya (69 tahun)? Tapi diiringi tekad dan semangat untuk liburan yang tinggi, jadilah 10 hari roadtrip Jakarta – Tegal – Semarang – Salatiga – Ambarawa – Jogja – Klaten – Boyolali – Solo – Jakarta πŸ™ˆ

Gempor tentunya ya πŸ˜… tapi hati senang

21 Des – Jakarta ke Semarang, sudah berangkat jam 5 pagi dari rumah tapi Cikampek memang super macetnya, jam 12 siang kita baru sampai di Tegal lalu mampir ke Warung Makan Pi’an di Tegal, makanannya enaaakk, apalagi pisang gorengnya yang dimakan dengan gula halus 🀀. Dari Tegal ke Semarang ternyata lebih macet lagi πŸ˜… sudahlah, jam 10 malam sampai hotel langsung mandi terus tidur

22 Dec – Kota Tua Semarang, Lunpia Gg Lombok dan Salatiga 😍

23 Dec – Museum KA Ambarawa (missed the train schedule karena kehabisan tiket πŸ™), Rawa Pening, Borobudur (ada VW tournya 😍)

24 Dec – Taman Pintar, Tempo Gelato, Alun-Alun Kidul

25 Dec – Umbul Ponggok (took underwater photo jam 12 siang sampai belang πŸ˜…), Keju Boyolali, Galabo Solo

26 Dec – Tawangmangu Grojogan Sewu (main aiiiir 😍), Batik Saseti

27 Dec – Lava Tour Merapi (seru banget naik Jeep Willys, awalnya mendung ga bisa liat Merapi, lalu hujan dan Merapi terlihat indaahh sekali 😍), House of Raminten, dan keliling Malioboro

28 Dec – Prambanan, Tebing Breksi, Taman Pelangi

29 Dec – My 1st born birthday party 😘 (may God always bless you my dear Kakak), meet up with Mas Ageng, Vero, and Raka (terima kasih yaa sudah nyambangin 😘) then back to Jakarta after buying Ciao Gelato

Ditahan dulu ya detail hariannya, dipanggil-panggil sama yang sudah ngantuk minta dipeluk

Happy New Year 2018 Everyone! πŸŽ‰

Jawaban Jitu : Kapan Nambah Anak Ketiga?

Saya beneran ga bosen deh ditanya kapan nambah anak ketiga? Atau anaknya 2 laki-laki, kapan nambah anak perempuan? 😄😄

Karena saya punya kumpulan jawabannya 😁😁

Berikut beberapa pilihannya 😜 

1. Mudah-mudahan saya cukup dengan 2 anak, sekolah mahal, daycare mahal, mbak susah dicari (*bayar mbak sih gampang, nyarinya itu loh –> edisi songong 😥😥)

2. Anak laki2 saya, keduanya kalau mau tidur sukanya dipeluk saya, 2 tangan saya sudah digunakan untuk memeluk keduanya, kalau ada anak ketiga, kasian kan ga ada tangan Mamah yang memeluk…(*edisi kasih sayang 😍😍)

3. Saya kerja, anak 1 dititip di Omanya, anak 2 dititip di daycare, kalau ada anak ketiga, dititip dimana lagi? (*edisi distribusi…distribusi anak 😶)

4. Mimpi saya, suatu hari nanti bisa keliling dunia sekeluarga (*maksudnya sama suami dan anak-anak loh ya). Kalau belum tahu, untuk bisa traveling ke Eropa sekarang-sekarang ini, minimal ada deposit sekitar 50 juta rupiah per orang (*inget! Per Orang), sekarang aja berempat sudah minimal depositnya 200 juta rupiah, nah dihitung-hitung dengan inflasi dan future value of money (*sok iya aja jago ngitung) beberapa tahun lagi pasti akan lebih mahal, nah, kalau ada anak ketiga? Kapan travelingnyaaa…(*edisi kurang piknik 😓)

5. Saya ini warga negara yang baik. Warga suatu negara lho ya (*no SARA please). Sebagaimana warga negara yang baik, saya mendukung program pemerintah “2 anak cukup”. Udah pada paham lah ya…(*edisi taat pemerintah:):))

6. Buat saya, kualitas anak lebih utama daripada kuantitas anak. Dengan 2 anak, saya jauh lebih fokus mendidik dan membesarkan mereka, no offense please. Kalau mau nyinyir, saya akan jawab, “kemampuan saya cemen kok, baru mampu sampai 2 anak, terus situ mau bilang apa?” (*ngajak gelut mode ON :evil:)

7. Laki-laki atau perempuan sama saja! Semua sama di mata Tuhan, lalu kenapa manusia yang tidak sempurna ini membeda-bedakan? (*edisi religius 😇)

Salam Hangat,

Ibu 2 Anak 😘

What had 2016 taught me?

Hai 😄 

Lama ga nulis deh saya (*sambil nyapu2 dan ngelap2 blog 😆), lama banget! Sejak si hp note ini rusak, trus ganti ke J, trus note diperbaiki dan sudah bisa dipakai lagi dengan kadang-kadang masih error tapi masih bisalaaahh πŸ™‚

Kangen nuliiiis, kangen menangkap langkah kehidupan dalam tulisan πŸ™‚

Semangatnya datang dari temen-temen #ODOP, yang membuat saya merasa terapresiasi, karena, “wah, saya ada di dalam group blogger yang handal” (*nebeng biar dibilang handal 😅) gimana taunya handal? Well, di beberapa ajang lomba nulis blog aka blogger competition, beberapa adalah juara-juaranya. Beberapa sudah menghasilkan uang dari tulisannya. Dan sederet kisah sukses lainnya. Terpecut? Iya dong, masternya ada semua, murah berbagi, masak iya mau silent reader terus 😌 (*sambil nunduk malu, ambil parfum, semprot blognya, biar wangi 😆)

Desember memang belum habis, tapi…saya sudah ingin merekapitulasi pelajaran hidup selama setahun ini. Rasanya 2016 ini adalah tahun yang penuh pelajaran untuk saya πŸ™‚

Di pertengahan Januari, suatu Senin pagi, saya dikejutkan dengan pesan dari whatsapp “Perusahaan ini mau tutup. Semua pekerja diberhentikan.” Awal tahun yang cukup mengejutkan bagi kami, terutama suami saya. Syukurlah, Tuhan sangat menyayangi kami. Ujian ini sanggup kami lalui, tidak lama suami saya sudah berkarir di tempat yang baru, dengan tantangan baru, malah lebih baik dari sebelumnya. Itu saja hikmahnya? Belum semua…Di masa sulit itu, kami belajar menguatkan hubungan. Tuhan memberi kami waktu untuk ngobrol dari hati ke hati, sehingga kualitas hubungan membaik. Kami lebih baik.

Instead of investing or saving dari pesangon, kami memilih menyelesaikan kewajiban cicilan kami. Awalnya sederhana saja, kalau kami cicil per bulan akan memberatkan biaya operasional bulanan ketika suami saya belum kembali bekerja, sehingga kami memutuskan menutup cicilan. Perasaan kami? Lega. Lepas dari hutang cicilan itu sangat melegakan ☺

Masih di triwulan pertama tahun 2016, saat penilaian kinerja personal. Atasan saya mengatakan bahwa salah seorang peer saya menyampaikan bahwa dia tidak menyelesaikan pekerjaannya karena saya, karena saya menanyainya tentang pekerjaan. Alih-alih menerima penjelasan saya, atasan saya menganggap saya kurang dalam berkomunikasi dan saya meremehkan orang lain. Somebody was playing victim at that time. 

Pekerjaan yang dilakukan peer saya ini, sebutlah si MR, mempengaruhi kelanjutan pekerjaan beberapa unit, sehingga saya bertanya pada MR, “apakah sudah selesai?kira-kira kapan selesai?” Dan karena pertanyaan itu saya dianggap membuat pekerjaannya tidak selesai πŸ™‚ 

Atasan saya menyarankan agar ke depannya saya bertanya melalui atasan saya saja mengenai pekerjaan MR. Saya menyepakatinya. Hampir setahun sejak MR ‘mengadukan’ saya, apakah tugas-tugasnya selesai? As predicted, jawabannya : TIDAK. Not even reach 75% :D:D Mengabaikan tugasnya, lantas mengakui pekerjaan saya sebagai miliknya, dilakukan juga πŸ™‚ I’ve been working for years with many teams from some units and never had a problem, but time will prove anything…meskipun sampai sekarang MR ini tetap ada, saya yakin, Tuhan melihat segalanya. Saya anggap MR ini adalah satu materi ‘ujian kenaikan tingkat hidup’. Politik kantor ya namanya, macam-macam bentuknya 😁😁😁 

Lalu di tahun ini datanglah ‘perang batin’ ibu bekerja. Yes, saya ingin berhenti dan mengurus rumah tangga. Saya ingin menyudahi segala bumbu politik kantor, ditambah biaya daycare yang tidak lagi bersubsidi, mahal sodara-sodari…(*mencapai 3 kali lipatnya). Saya juga sangat ingin menerapkan pola pengasuhan untuk anak-anak saya sesuai dengan kemampuan terbaik saya, menemani belajar dan bermain, serta melihat perkembangan mereka setiap saat. Suami saya mengajukan pertanyaan sebelum saya memutuskan resign “Apakah kamu yakin berhenti bekerja? Apa jangan-jangan dalam 3 bulan kamu jadi jenuh dan uring-uringan?” Pertanyaan suami saya ini belum bisa saya jawab sampai saat ini. Dan beberapa pertimbangan lain yang membuat saya akhirnya masih memilih jalur ibu bekerja.

Di tahun ini juga saya belajar banyak hal tentang bagaimana seseorang menyampaikan pikiran dan pandangan. Saya ingat ada sebuah pernyataan “Menitipkan uang, akan berkurang, menitipkan pembicaraan, akan berlebih”:) Pukulan telak saya dapatkan dari orang-orang dekat. Saat saya sudah menjelaskan keadaan sebenar-benarnya, dan orang lain tidak menerima, bahkan percaya pada pembicaraan yang sudah dibumbui, saat itulah saya kembali berterima kasih bahwa Tuhan sedang menegur saya, mengingatkan akan karma kehidupan saya terdahulu, untuk nantinya hidup lebih baik, terutama untuk kedua anak kesayangan saya. πŸ™‚

Yoga! Tahun ini senaaang sekali rasanya saya berkenalan dengan yoga πŸ™‚ Dengan berlatih yoga secara rutin, saya merasa mendapatkan semangat baru, melakukan hal-hal yang selama ini saya tidak yakin bisa melakukannya, tapi ternyata saya…bisa!! Pose tripod apalagi headstand yang sejak kecil mungkin hanya bisa saya lakukan dalam mimpi, sekarang bisa saya lakukan dengan penuh kesadaran. Yoga pun menjadi terapi untuk diri saya, melatih kesabaran dan kesadaran untuk diri saya. Dalam beryoga, saya tidak sedang berkompetisi dengan dunia, saya hanya sedang menaklukkan semua kekhawatiran dan ketakutan saya, sehingga setelah melakukan yoga saya merasa bugar dan bahagia πŸ™‚

Beberapa waktu ini saya mungkin sedang tidak dalam kondisi terbaik, tapi lagi-lagi grup ODOP ini datang membawa semangat baru. Melalui grup whatsapp awal Desember 2016 lalu, saya berkesempatan kulwap dengan penulis kenamaan Indonesia, She is Dee! The famous Dewi Lestari which is known by her ‘Supernova’ book 😍😍😍 Meskipun menjadi penulis terkenal bukan jadi tujuan utama saya, tetapi kulwap ini membangkitkan semangat saya untuk terus menulis. Kalau Dory dalam film Finding Dory diingatkan orang tuanya untuk “Keep Swimming..Keep Swimming..” saya bagai disemangati “Keep writing…Keep writing..” πŸ˜‰ Satu lagi, saya tersanjung Bapak PM Susbandono mau membaca dan memberi saran untuk tulisan saya. Saya mencatat saran beliau, menulis dengan tujuan dan sensitif dengan sekitar :):) Matur nuwun sanget, Bapak!

Dan yang paling gres adalah….Sertifikat ODOPfor99days!!! Rasanya bahagiaaaa banget menerima sertifikat ini 😄😄 Sertifikat ini mengingatkan saya bagaimana perjuangan saya mencoba lulus dari #ODOPfor99days, saya tidak menyangka, saya bisa melaluinya!! Big applause and hat off to all of my #ODOPfor99days fellas 😙😙 especially Teh Shanty Dewi Arifin, the initiator.

Saya percaya di balik setiap ujian akan ada hikmahnya. Semua ujian ini menaikkan kelas keimanan dan kepercayaan saya kepada Tuhan. Tuhan tidak akan menguji umatNya melebihi batas kemampuan umatNya. Dan saya yakin, karena semua indah pada waktuNya, akan ada hari dimana saya akan tersenyum menuai buah-buah tanaman saya, untuk saya berikan hanya kepada kedua anak kesayangan saya.

#day114

About being Trusted..

Buat saya adalah keharusan..

Coba kalo saya suka menceritakan rahasia orang lain…atau saya menceritakan rahasia perusahaan…kalau saya big mouth, apakah nanti mereka akan percaya lagi pada saya?

Saya memilih berkata tidak, kalau saya tidak mampu. Saya memilih untuk tidak mendengar cerita berkategori rahasia, kalau saya tidak yakin apakah saya bisa menyimpannya atau tidak. 

Saya memasukkan cerita ‘rahasia’ orang lain ke dalam ‘you can trust me category’ untuk hal-hal yang dipercayakan pada saya. Malulah saya kalau saya bocor, lalu yang menceritakan kepada saya, mendapatkan cerita tersebut dari orang lain dan ketika dicek, sumbernya adalah saya πŸ€’πŸ€’

Kadang ketika saya diberi kepercayaan untuk menangani project yang berkategori ‘confidential’ not even a clue, saya harus menyimpannya sendiri dari teman dalam tim saya, kadang sulit karena sebagai 1 tim kadang kita bertanya tentang apa yang dikerjakan oleh teman kita, tapi sekali lagi, kalau saya bocor, saya merusak kepercayaan yang diberikan kepada saya. 

Orang mungkin menilai saya pelit informasi, tapi buat saya, jauh lebih penting menjadi dipercaya.

Mengutip dari twit Mba Alissa Wahid, tim dengan trust yang tinggi akan lebih produktif, sementara tim dengan distrust akan menghabiskan energi dan melelahkan tanpa menghasilkan sesuatu yang sangat berarti, maka being trusted adalah pilihan saya.

Kenapa sih saya sering banget menulis topik-topik ini? 

Saya mengamati dan menganalisa, apa yang baik dan apa yang tidak. Yang tidak, akan saya analisa kemudian saya cari solusinya untuk saya, lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan 😊 harapannya, kalau saya lupa, saya ingat kembali dari apa yang saya tulis.

#day113

HUET – Melahirkan – Yoga

Apa hubungannya? 

Saya baru pulang helicopter underwater escape training (HUET), apa itu? Kursus teknik penyelamatan diri dari helicopter yang tenggelam πŸ˜… sounds cool? Coba dipertimbangkan dulu 😁

Berhubung pekerjaan mengharuskan saya punya sertifikat training ini, ya ikutlaaaahh…Awal-awal denger trainingnya, “waaah, nanti bakal dimasukin ke dalam helikopter, dalem air, trus helikopternya dibalik!” Itu satu, yang lain bilang “Rasanya itu air masuk ke hidung, panaaas!” Ok, jiper pastinya πŸ˜† 

Kenyataannya? Bener siiihh πŸ˜‚ masih mau bilang cool?

Tapi, segala hal yang pertama kali rasanya hampir selalu seru dan menarik kan? Itu yang saya rasakan. Jadi, terima teorinya di kelas, masih sangat amazed (*namanya belum pernah naik helicopter ya πŸ˜…) pas praktik? Saya sempatkan merenung sebentar cari motivasi, “Do I have to do these all?” (*meuni kabinabina teuing πŸ˜‚πŸ˜‚). Selama simulasinya masih kepala di atas air, rasanya buat sebagian besar orang termasuk saya, pasti lebih mudah kan ya. Yang menurut saya challenging adalah ketika kita ada di dalam replika helikopter itu kemudian helikopter ditenggelamkan lalu harus menyelamatkan diri dari pintu maupun jendela helikopter yang tertutup, dengan kondisi tenggelam 2 mode, tenggelam lurus dan helikopter tenggelam dalam kondisi terbalik. Iya terbalik 180Β°. 

Semuanya berhasil saya lalui dengan baik 😊😊 dan saya memilih untuk berada dalam tim pertama yang mencoba simulasi. Prinsip saya, mau jadi  tim yang pertama atau terakhir, saya pasti harus mencoba kan, jadi ya sudahlah, saya ambil saja yang pertama hehe πŸ˜ƒ

Setelah itu saya duduk, sambil melihat ke tim berikutnya. All we really need is stay calm and do not panic. Cukup ikuti saja urutan yang diajarkan oleh instruktur, everything is gonna be okay. Kalau panik? Rugi di kita kok, semakin lama menahan napas, belum hidung sakit kemasukan air, bisa lupa urut-urutan penyelamatan diri, dan di dalam air saja sudah mampu membuat kita disorientasi, jadi tidak perlu ditambah dengan perasaan panik, cuma bikin lupa. Oya, namanya juga training, meskipun dikondisikan seperti kejadian sebenarnya, tetap banyak penyelam dan instruktur ahli di sekeliling kita, jadi tetap tenang saja. Rasanya tidak nyakan memang kalau tenggelam, tapi kalau kita tidak pernah mencoba, (amit-amit) dalam kondisi sebenarnya kita jadi tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

Saya jadi teringat momen-momen “jangan panik” ini dibutuhkan. Yang pernah hamil dan melahirkan pasti tau ya rasanya. Saya bersyukur sekali ikut kelas hypnobirthing dan senam hamil yang mengajari saya untuk tetap tenang dan tidak panik ketika kontraksi datang dan waktunya melahirkan, bahkan di anak kedua, sampai bukaan 9 saja saya tetap bisa bercanda, ngobrol, jalan dengan suami, dokter, maupun bidan ketika kontraksi berkurang. Sakit? Ya sakit sih memang, tapi ya dinikmati. Kalau saya panik, energi saya untuk melahirkan pasti akan habis untuk panik juga kan ya..

Saya pun ingat pesan yoga trainer saya untuk tidak ‘keburu nafsu’ mencoba gerakan baru. Saat melihat orang lain achieved pose baru dan saya belum bisa, saya panik, ingin buru-buru bisa, padahal dalam yoga, pencapaian orang sangat tergantung kemampuan masing-masing tubuhnya, jadi ya tidak akan sama, belum tentu sama untuk 2 orang dengan waktu latihan yang sama.

Dan manfaat belajar tenang saat persiapan melahirkan dan yoga itu akhirnya membawa saya tidak panik saat HUET. Hasilnya seperti harapan saya, baik-baik saja 😊 hidung perih? Ya pasti, karena tenggelam, tapi saya tidak menambah penyakit dengan menendang orang, atau tabrak sana sini karena panik πŸ˜†

#day112